EROPA KEKURANGAN PASOKAN OBAT JIKA NO-DEAL BREXIT

Ketika batas waktu 31 Oktober bagi Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa semakin dekat, para profesional kesehatan memperingatkan bahwa kekurangan pasokan obat-obatan dapat memburuk di Eropa jika no-deal Brexit.

Perusahaan farmasi telah menyatakan keprihatinan yang sama tentang obat-obatan, dan beberapa telah memesan pasokan melalui angkutan udara untuk persediaan jika diperlukan.

Tetapi dampak pada pasokan medis juga akan terasa di luar Inggris. Sekitar 45 juta paket obat dikirim dari Inggris ke seluruh blok UE setiap bulan, dalam perdagangan senilai hampir 12 miliar Pound (14,5 Miliar Dolar) pada tahun 2016, menurut laporan parlemen Inggris.

Peningkatan kontrol bea cukai di pelabuhan dan perbatasan antara Inggris dan Uni Eropa juga dapat mengganggu pasokan obat-obatan dan senyawa kimia yang diperlukan untuk memproduksinya.

“Terlepas dari persiapan intensif oleh sektor industri untuk setiap skenario, no-deal Brexit berisiko mengganggu pasokan obat-obatan,” di seluruh UE, Andy Powrie-Smith, seorang pejabat di Federasi Industri dan Asosiasi Farmasi Eropa, mengatakan kepada Reuters.

Regulator obat UE, European Medicines Agency (EMA), mengatakan UE mempersiapkan dengan matang untuk Brexit dan telah menyelesaikan otorisasi untuk hampir semua obat di bawah pengawasannya yang memerlukan kliring lebih lanjut karena kepergian Inggris.

Pejabat EMA mengatakan, mereka tidak memiliki “gambaran lengkap” dari situasi di semua negara Uni Eropa untuk obat-obatan yang disahkan secara nasional.

Belanda mengatakan pada bulan Februari bahwa 50 obat “kritis” beresiko kekurangan jika no-deal Brexit. Kekhawatiran tentang sebagian besar obat-obatan itu telah diselesaikan, kata juru bicara Kementerian Kesehatan Belanda, tetapi masalah bisa muncul untuk obat-obatan yang kurang esensial.

Dalam sebuah laporan pada bulan Juni, eksekutif Komisi Eropa Uni Eropa memasukkan obat-obatan dan peralatan medis dalam daftar sektor-sektor yang dibutuhkan “keberlanjutan dan kewaspadaan khusus”.

Banyak negara Uni Eropa telah menghadapi kekurangan beberapa obat-obatan karena masalah dengan produksi, regulator atau distribusi.

Sebuah survei terhadap 21 negara Eropa menunjukkan bahwa mereka semua mengalami kekurangan obat-obatan tahun lalu, menurut Kelompok Farmasi Uni Eropa. Vaksin adalah salah satu obat yang paling sering disebut sebagai kebutuhan dengan persediaan yang kurang.

Inggris perlu mengesahkan ratusan obat baru yang kini dijual dengan lisensi UE. Inggris mengimpor sekitar 37 juta bungkus obat setiap bulan dari UE.

Inggris juga kehilangan kapasitas pengawasan dan uji klinis karena banyak operasi telah pindah ke UE. Tren ini dapat menyusutkan industri farmasi lokal dan menyebabkan pasokan yang lebih ketat dan biaya yang lebih tinggi.

Negara-negara UE menghadapi rintangan logistik yang sama untuk impor mereka dari Inggris.

Dalam hal no-deal Brexit, “akan ada beberapa masalah dan keterlambatan dalam rantai pasokan karena protokol perbatasan, tetapi saya pikir kami akan dapat mengelolanya,” kata Eric Van Nueten, kepala eksekutif Febelco, Pedagang grosir obat-obatan terbesar Belgia.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *